Kepimpinan Agum Sebagai Ketua KN Dipertanyakan

(detiksport/Resha Pratama)Jakarta - Sosok Agum Gumelar sebagai ketua Komite Normalisasi dinilai menjadi kunci masa depan PSSI. Jenderal purnawirawan itu diminta lebih terbuka supaya kejadian kongres 20 Mei tidak terulang.

Setelah kongres di Hotel Sultan, Jakarta, itu mengalami deadlock, dan Agum menghentikannya, Indonesia masih diberi kesempatan oleh FIFA untuk menggelar kongres sampai 30 Juni. Jika tidak berhasil, keanggotaan Indonesia di FIFA otomatis dicabut.



Kepemimpinan Agum, yang pernah menjabat sebagai ketua umum PSSI periode 1999-2003, sebagai ketua KN mendapatkan pro-konta di kalangan masyarakat. 

"Menurut saya Pak Agum orang yang baik, berwibawa. Tapi sekarang ini saya agak meragukan karena ada 'tekanan'. Saya tidak tahu tekanan itu apa, tapi saya agak meragukan. Tapi kalau mau cari penggantinya pun dilematis. Mau cari siapa lagi?" tutur pengamat sepakbola yang juga ketua Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI), Taufik Jursal Effendi, kepada detiksport, Selasa (31/5/2011).

"Tapi Pak Agum masih bisa kalau kali ini bisa lebih terbuka. Harus bisa menjalin konsolidasi pada semua pihak termasuk para pemilik suara. Jangan ada lagi kelompok-kelompok, harus berimbang pada semua pihak," sambungnya.

Lebih kongkret Taufik mengatakan, Agum harus mempersiapkan semua hal menjelang kongres, antara lain mengantipasi perdebatan dan perbedaan yang berpotensi muncul lagi, misalnya permintaan supaya Komite Banding Pemilihan menjelaskan keputusan mereka meloloskan pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro, yang sejak awal dilarang mencalonkan diri sebagai ketua umum dan wakil ketua umum PSSI.

"Hal-hal seperti itu 'kan bisa dibicarakan di 'tengah kamar', sebelum dilempar ke floor (kongres). Harus dibuka lobi-lobi dan sebagainya, supaya tidak buntu lagi ke depannya. Yang pasti, Pak Agum setelah pulang dari Zurich harus lebih terbuka," simpul Taufik.

Sementara itu anggota DPR dari Komisi X, Dedi 'Miing' Gumelar, tidak mempermasalahkan kapabilitas Agum untuk meneruskan tugasnya sebagai ketua KN. Bahwa ada anggapan dia gagal memimpin kongres 20 Mei, itu karena ada faktor-faktor tertentu dari luar.

"Itu teknis, karena terkait dengan adanya tekanan. Saya melihat Pak Agum sudah menjalankan perintah FIFA. Menurut saya Pak Agum malahan terlalu akomodatif. Buktinya adalah ketika Kelompok 78 tak bisa menerima keputusan soal GT-AP, beliau mempersilakan banding ke CAS," ujar Miing saat dihubungi detiksport.

"Kalau (keputusan menghentikan kongres 20 Mei) dianggap terlalu dini, mau diteruskan sampai pagi pun sepertinya tidak akan bisa, karena keinginan mereka belum tercapai. Jadi, menurut saya langkahnya sudah tepat."

Masukan lain datang dari mantan pemain nasional yang menjadi tim sukses pasangan GT-AP, Bob Hippy. Selain mempertanyakan netralitas dan kemampuan Agum sebagai ketua KN dan pimpinan sidang, ia juga meminta ada sejumlah perubahan aturan main untuk kongres mendatang.

"Barangkali harus ada figur-figur baru untuk kongres berikutnya. Pak Agum menurut saya sudah tidak netral. Juga pemantau dari FIFA, kalau bisa jangan yang itu-itu lagi. Jangan (Thierry) Regenass lagi. Coba sekjen (Jerome Valcke), atau Frank van Hattum juga tidak memihak," paparnya.

"Harus diubah, jangan ada lagi sikap saling curiga. Mari kita diskusikan aturan mainnya, statuta FIFA dan PSSI, ada pembahasan lebih dulu, lobi-lobi, dan lain-lain. Apa yang masih mengganjal, dibahas lah dulu sebelum kongres," tambahnya.

0 Komentar:

Posting Komentar

Banner

create your own banner at mybannermaker.com!
create your own banner at mybannermaker.com!